Cuaca Ekstrem Bikin Daun Menguning, Petani Tanahlaut Terpaksa Cabut Tanaman Gambas
Inews Pelaihari- Hujan yang terus turun hampir setiap hari dalam beberapa minggu terakhir membawa dampak serius bagi para petani di Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan. Salah satunya dialami oleh Basuki, petani asal Kelurahan Angsau, Pelaihari, yang harus merelakan tanaman gambas (oyong/luffa acutangula) miliknya rusak dan tak bisa lagi dipanen. Tanaman yang biasa disebut karawila oleh masyarakat setempat ini merupakan komoditas sayuran merambat yang cukup digemari karena mudah dibudidayakan dan memiliki nilai jual yang stabil. Namun, cuaca ekstrem kali ini membuat dedaunannya semakin luas menguning, batangnya mulai menghitam, dan produktivitasnya menurun drastis.

Baca Juga : Nepal Memanas! Sushila Karki Dilantik Jadi PM Sementara Usai 51 Orang Tewas dalam Protes
“Terpaksa saya cabut semua tanaman gambas karena hampir seluruh daun sudah menguning.
Awalnya hanya sebagian kecil, tapi sekarang meluas ke seluruh kebun,” ujar Basuki, Minggu (14/9/2025).
Ia menjelaskan bahwa kebun karawilanya yang berada di Desa Pemalongan, Kecamatan Bajuin, resmi ia bersihkan pada Sabtu sore kemarin. Keputusan ini diambil dengan berat hati karena tanaman tersebut baru sekitar 14 kali dipanen. Padahal, dalam kondisi normal, ia bisa memetik hasil hingga 30 kali panen sebelum masa tanam selesai.
Basuki yang merupakan bapak dua anak ini mengakui bahwa kegagalan panen kali ini menjadi kerugian yang cukup besar. Namun, ia memilih untuk tidak larut dalam kekecewaan. Baginya, gagal panen adalah risiko yang harus dihadapi setiap petani.
“Dalam bertani, gagal panen itu wajar. Yang penting kita harus tetap semangat, belajar dari pengalaman, dan memperbaiki cara budidaya supaya hasil ke depan bisa lebih baik,” katanya.
Meski begitu, Basuki tidak langsung menanam kembali karawila.
Ia akan memberikan jeda beberapa minggu terlebih dahulu untuk mematikan rumput liar dan menyiapkan lahan agar lebih subur. “Kemarin sudah saya semprot herbisida. Setelah lahan siap, baru saya tanam lagi,” tambahnya.
Kerusakan tanaman kali ini menurutnya sulit dihindari karena penyebab utamanya adalah tingginya curah hujan yang berlangsung terus-menerus. Tanaman gambas yang seharusnya mendapatkan sinar matahari cukup justru mengalami kelembaban berlebih, sehingga mudah terserang penyakit dan menyebabkan daun menguning.
Kondisi serupa juga dialami oleh beberapa petani lain di wilayah tersebut. Mereka berharap pemerintah daerah maupun dinas pertanian bisa membantu memberikan penyuluhan dan solusi, seperti varietas tanaman yang lebih tahan terhadap cuaca ekstrem atau bantuan sarana pertanian agar kerugian petani tidak semakin besar.
Meski musim tanam kali ini kurang beruntung, Basuki tetap optimis untuk memulai lagi. “Bertani itu soal ketekunan. Saya yakin kalau cuaca kembali normal, hasil panen nanti bisa lebih bagus,” ujarnya sambil tersenyum.
















