PM Qatar Sebut Israel Lakukan Terorisme Negara, Netanyahu Disebut Delusi Narsis
Inews Pelaihari- Situasi di Timur Tengah kembali memanas setelah Perdana Menteri (PM) Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani, melontarkan kecaman keras terhadap Israel. Dalam konferensi pers di Doha, Selasa (9/9/2025), ia menuding serangan militer Israel ke ibu kota Qatar sebagai bentuk “terorisme negara” yang bisa menjadi titik balik bagi stabilitas kawasan.
Israel Luncurkan Serangan ke Doha
Ketegangan meningkat setelah Pasukan Pertahanan Israel (IDF), dengan dukungan badan intelijen Shin Bet (ISA), melancarkan serangan terhadap sebuah kompleks di Doha yang dituding sebagai fasilitas Hamas. Menurut klaim Hamas, serangan tersebut menyasar lokasi yang kerap digunakan para pemimpin kelompok itu, namun mereka mengaku berhasil selamat dari upaya pembunuhan tersebut.

Baca Juga : Panglima Ukraina Akui Rusia Unggul di Medan Perang
PM Qatar menegaskan bahwa tindakan Israel merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan negaranya.
“Serangan mendadak ini tidak akan diabaikan. Qatar berhak menanggapi serangan biadab semacam ini,” tegas Sheikh Mohammed.
Kecaman Terhadap Netanyahu
Dalam pernyataannya, PM Qatar tidak hanya mengecam aksi militer Israel, tetapi juga secara langsung menyasar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ia menuduh Netanyahu merusak stabilitas regional demi ambisi pribadi.
“Netanyahu bertindak demi delusi narsis dan kepentingan pribadinya. Tindakannya mengorbankan nyawa warga sipil serta mengancam perdamaian kawasan,” ucap Sheikh Mohammed dengan nada keras.
Dampak Diplomasi dan Mediasi yang Terancam
Qatar selama ini dikenal sebagai salah satu mediator penting dalam konflik berkepanjangan antara Hamas dan Israel. Namun, serangan terbaru ini dinilai bisa meruntuhkan upaya diplomasi yang sudah berjalan.
“Ruang untuk diplomasi kini semakin sempit. Setelah serangan seperti ini, sulit membayangkan adanya perundingan yang valid. Proses negosiasi yang diprakarsai Presiden AS Donald Trump pun kini berada di ujung tanduk,” tambahnya.
Meski demikian, Sheikh Mohammed menegaskan bahwa Qatar tetap akan berusaha mendorong jalur mediasi, meskipun kondisi saat ini penuh ketidakpastian.
Tekanan dari Amerika Serikat dan Israel
Serangan Israel ke Doha terjadi hanya dua hari setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan “peringatan terakhir” kepada Hamas. Trump mengklaim Israel telah menyetujui syarat tertentu dalam sebuah kesepakatan damai, dan menuntut Hamas segera membebaskan para sandera Israel yang masih ditahan di Gaza.
Tak lama berselang, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz juga mengeluarkan ancaman keras, memperingatkan Hamas akan menghadapi “pemusnahan total” bila tidak segera menyerah dan meletakkan senjata.
Respons Hamas
Menyusul tekanan internasional tersebut, Hamas menyatakan bersedia kembali ke meja perundingan. Dalam pernyataannya, kelompok itu menyebut telah mendengar “beberapa gagasan dari pihak Amerika” yang berpotensi menjadi dasar kesepakatan gencatan senjata.
Meski begitu, serangan Israel ke Doha membuat proses menuju gencatan senjata semakin rumit. Hamas menuding Israel tidak tulus dalam upaya perdamaian, sementara Qatar memperingatkan bahwa eskalasi semacam ini hanya akan memperpanjang penderitaan rakyat Palestina.
Situasi Semakin Tidak Pasti
Kecaman keras dari Qatar menambah kompleksitas dinamika politik di kawasan. Bagi banyak pengamat, serangan Israel ke Qatar bukan hanya provokasi militer, tetapi juga bisa memicu ketegangan diplomatik baru di antara negara-negara Teluk dan sekutunya.
Dengan semakin sempitnya ruang diplomasi dan meningkatnya retorika keras dari berbagai pihak, konflik Hamas-Israel tampaknya masih jauh dari kata selesai. Dunia kini menunggu apakah tekanan internasional, termasuk peran Qatar sebagai mediator, mampu mencegah konflik berubah menjadi krisis yang lebih besar.
















