Hidup di Rumah Reyot Berlapis Terpal, Kisah Pria Tua di Panggungbaru Tala Viral di Medsos
Inews Pelaihari- Sebuah video singkat berdurasi 22 detik yang memperlihatkan kehidupan seorang pria tua di Desa Panggungbaru, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanahlaut (Tala), mendadak viral di media sosial sejak akhir pekan lalu. Video tersebut membuka mata banyak orang tentang masih adanya warga yang hidup serba kekurangan, jauh dari kata layak.
Dalam rekaman amatir itu, tampak seorang laki-laki lanjut usia mengenakan sarung kotak-kotak dengan kaus putih biru lusuh berdiri di depan rumah kecilnya. Rumah itu bahkan lebih mirip gubuk darurat ketimbang hunian. Dindingnya hanya terbuat dari terpal biru yang sudah usang, sementara pintu rumah pun tak lebih dari potongan terpal yang digantung seadanya.
Ukuran rumah itu diperkirakan tak lebih dari 3×4 meter. Atapnya berbahan seng yang mulai keropos, beberapa bagian terlihat hampir roboh. Bangunan kecil itu berdiri di atas panggung kayu setinggi satu meter, dan bagian bawahnya dimanfaatkan untuk kandang ayam.

Baca Juga : Inovasi Sederhana, Dampak Besar: Keranjang Khusus Plastik Warnai Acara Kemerdekaan
Suara perekam dalam video menyebutkan bahwa pria tua tersebut adalah warga kurang mampu yang tinggal di Desa Panggungbaru.
“Nah, Ibu Marliana. Ini di Desa Panggungbaru. Tidak pernah tersentuh bantuan bedah rumah,” ucap perekam itu, sambil menyebut nama seorang tokoh yang dikenal aktif membantu warga miskin.
Nama Marliana memang sudah tak asing di telinga masyarakat Tala. Ia adalah penyuluh agama di Kementerian Agama Tala sekaligus pengurus pusat Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI). Selama ini, ia sering terlibat langsung dalam aksi sosial, termasuk program bedah rumah bagi keluarga miskin.
Mengetahui video tersebut ramai dibagikan, Marliana langsung merespons. Ia menegaskan bahwa dirinya akan segera turun ke lokasi untuk bertemu dengan pria tua itu. “Tahap awal, saya akan membantu kebutuhan sembako terlebih dahulu. Setelah itu, kami akan koordinasi dengan pihak terkait untuk upaya perbaikan rumahnya,” ujarnya.
Marliana juga memahami bahwa program bedah rumah dari pemerintah tidak bisa dilakukan begitu saja.
Ada sejumlah persyaratan administratif yang harus dipenuhi, salah satunya kepemilikan lahan. Warga penerima bantuan harus bisa menunjukkan bukti kepemilikan, meskipun hanya berupa surat sporadik. “Kalau memang ada kendala teknis soal persyaratan, kami akan berusaha mencari jalan keluar, mungkin membantu material seadanya untuk memperbaiki rumah beliau,” tambahnya.
Kepala Bidang Permukiman pada Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup Tala, Arief Setiawan, juga menegaskan bahwa pintu bantuan selalu terbuka bagi masyarakat berpenghasilan rendah. “Usulan bisa diajukan lewat pemerintah desa atau langsung ke dinas kami. Nanti akan kami tinjau kondisinya di lapangan,” jelas Arief.
Kasus seperti yang menimpa pria tua di Panggungbaru ini menunjukkan bahwa meski pembangunan terus berjalan, masih ada warga yang luput dari perhatian. Viral-nya video tersebut diharapkan bisa menjadi pintu masuk untuk menggugah kepedulian semua pihak—baik pemerintah, komunitas sosial, maupun warga sekitar—agar tak ada lagi masyarakat yang tinggal di rumah reyot berlapis terpal.
















